Menjaga Fitrah Anak: Amanah dan Tanggung Jawab Terbesar Orang Tua di Hadapan Allah
Anak adalah perhiasan dunia, penyejuk mata (qurrata a'yun), sekaligus ujian yang sangat berat bagi orang tuanya. Dalam Islam, anak bukanlah sekadar anugerah yang memeriahkan suasana rumah, melainkan sebuah amanah (titipan) dari Allah Ta'ala yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
Apakah kita sudah mendidiknya di atas jalan yang lurus? Ataukah kita membiarkannya tumbuh tanpa arah pengenalan kepada Rabb-nya?
1. Perintah Menjaga Keluarga dari Api Neraka
Allah Azza wa Jalla memberikan peringatan yang sangat tegas kepada para orang tua di dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (QS. At-Tahrim: 6)
Bagaimana cara menjaga anak dan keluarga dari api neraka? Sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: "Ajarilah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu agama (yang bermanfaat)." (Tafsir Ibnu Katsir, 8/167).
2. Anak Terlahir di Atas Fitrah (Tauhid)
Secara alamiah, setiap bayi yang lahir ke dunia ini sudah membawa fitrah (kecenderungan untuk mengesakan Allah dan mencintai kebaikan). Tugas orang tualah yang merawat fitrah tersebut atau justru merusaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang mutawatir:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani." (HR. Bukhari no. 4775 dan Muslim no. 2658)
Hadits ini menegaskan betapa dominannya peran lingkungan pertama, yaitu ayah dan ibunya. Jika orang tuanya mengajarkan tauhid, sunnah, dan akhlak mulia, maka fitrah itu akan tumbuh subur. Namun jika dibiarkan tanpa bimbingan, fitrah itu akan melenceng terbawa arus lingkungan yang buruk.
3. Peringatan Ulama Salaf: Kerusakan Anak Mayoritas Bermula dari Orang Tua
Seorang ulama besar dari kalangan Salaf, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah memberikan teguran yang sangat tajam bagi para orang tua yang lalai. Dalam kitabnya yang monumental mengenai pendidikan anak, Tuhfatul Maudud bi Ahkam Al-Maulud, beliau menuliskan untaian kalimat emas:
فَمَنْ أَهْمَلَ تَعْلِيْمَ وَلَدِهِ مَا يَنْفَعُهُ، وَتَرَكَهُ سُدًى، فَقَدْ أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَةَ الإِسَاءَةِ، وَأَكْثَرُ الأَوْلَادِ إِنَّمَا جَاءَ فَسَادُهُمْ مِنْ قِبَلِ الآبَاءِ، وَإِهْمَالِهِمْ لَهُمْ، وَتَرْكِ تَعْلِيْمِهِمْ فَرَائِضَ الدِّيْنِ وَسُنَنَهُ
"Barangsiapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, dan membiarkannya begitu saja, maka sungguh ia telah berbuat keburukan yang sangat besar kepadanya. Mayoritas kerusakan anak-anak itu, sumber utamanya berasal dari orang tua mereka sendiri. Yaitu karena orang tua menelantarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnahnya." (Tuhfatul Maudud, hal. 229).
Langkah Praktis Menjaga Fitrah Anak
Menyadari beratnya tanggung jawab ini, orang tua harus mengambil langkah proaktif:
Mengutamakan Pendidikan Tauhid: Seperti nasihat Luqman kepada anaknya, "Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah." (QS. Luqman: 13). Kenalkan anak kepada kebesaran Allah sebelum mengenalkan mereka pada hal-hal duniawi.
Menjaga Asupan Rezeki yang Halal: Makanan yang haram atau syubhat akan menumbuhkan daging yang keras dari menerima hidayah. Rezeki yang halal adalah kunci doa yang mustajab bagi kebaikan anak.
Memilihkan Partner Pendidikan yang Tepat: Di sinilah pentingnya menyekolahkan anak di instansi pendidikan yang sepemahaman. TKIT Al Furqonul Mubin hadir sebagai perpanjangan tangan (mitra) Ayah dan Bunda di rumah, memastikan bahwa nilai-nilai tauhid dan sunnah yang diajarkan di rumah terus dipupuk dengan baik saat anak berada di lingkungan sekolah.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kesabaran dalam mendidik anak-anak kita, dan menjadikan mereka generasi penerus pejuang dakwah tauhid dan sunnah di masa depan.