Seperti Karang Diterjang Ombak: Meneladani Keteguhan Aqidah Para Sahabat Nabi ﷺ
Harta yang paling mahal dan tidak ternilai harganya bagi seorang mukmin bukanlah emas, perak, atau jabatan, melainkan Aqidah dan Tauhid yang tertancap kokoh di dalam dada.
Jika kita ingin mencari standar keimanan yang benar dan diridhai oleh Allah Ta'ala, maka kita wajib berkaca kepada generasi pertama umat ini, yaitu para Sahabat radhiyallahu 'anhum. Allah Ta'ala menjadikan keimanan mereka sebagai tolok ukur kebenaran dalam firman-Nya:
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
"Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian (para Sahabat) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk..." (QS. Al-Baqarah: 137).
Bagaimana generasi emas ini mempertahankan aqidah mereka di tengah badai ujian yang sangat dahsyat?
1. Siksaan Fisik Tidak Mampu Menggoyahkan Tauhid
Kisah keteguhan aqidah para sahabat di fase Makkah adalah bukti nyata bahwa iman yang telah bercampur dengan aliran darah tidak akan bisa dicabut oleh siksaan seberat apa pun. Kita tentu mengenal Bilal bin Rabah yang ditindih batu panas di tengah padang pasir yang mendidih, namun lisannya terus mengulang kalimat tauhid, "Ahadun Ahad.. (Allah Yang Maha Esa)."
Suatu ketika, Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu 'anhu mendatangi Rasulullah ﷺ untuk mengadukan beratnya siksaan kaum musyrikin Quraisy. Beliau meminta agar Nabi ﷺ mendoakan kemenangan untuk mereka. Namun, apa jawaban Rasulullah ﷺ? Beliau ingin menanamkan mental aqidah yang baja kepada para sahabat:
كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ
"Sesungguhnya umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang digalikan lubang untuknya lalu ia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya sehingga ia terbelah menjadi dua. Namun hal itu sama sekali tidak memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disisir dengan sisir besi (hingga mengelupas) daging dari tulang atau uratnya. Namun hal itu juga tidak memalingkannya dari agamanya." (HR. Bukhari no. 3612).
Mendengar hal itu, para sahabat semakin kokoh pendiriannya. Mereka sadar bahwa jalan aqidah ini adalah jalan para Nabi dan orang-orang shalih terdahulu yang butuh pengorbanan tingkat tinggi.
2. Ketaatan Tanpa Tawar Menawar (Sami'na wa A'thana)
Ciri khas aqidah para sahabat adalah tunduk patuh mutlak terhadap apa pun yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, tanpa mendahulukan logika atau perasaan semata. Ketika wahyu turun, mereka berkata: "Kami dengar dan kami taat."
Inilah cerminan dari firman Allah Ta'ala:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka..." (QS. Al-Ahzab: 36).
3. Pesan Emas Ulama Salaf dalam Menjaga Aqidah
Melihat betapa pentingnya berpegang teguh pada jalan para Sahabat, para ulama Salafus Shalih terus mewasiatkan hal ini dari generasi ke generasi.
Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H), seorang ulama besar dari Syam, memberikan wasiat yang sangat relevan hingga hari kiamat:
عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ، وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَرَأْيَ الرِّجَالِ، وَإِنْ زَخْرَفُوهُ لَكَ بِالْقَوْلِ
"Wajib atasmu untuk berpegang teguh dengan jejak (aqidah/manhaj) para ulama Salaf (terdahulu) meskipun manusia menolakmu. Dan berhati-hatilah engkau dari pemikiran-pemikiran (logika) tokoh manusia, meskipun mereka menghiasinya dengan perkataan yang indah." (Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari'ah, 1/137).
Tantangan Aqidah Era Modern dan Peran Pendidikan Dini
Kini, ujian aqidah kita bukan lagi cambuk dan batu panas seperti di zaman sahabat, melainkan gempuran pemikiran (syubhat), tontonan merusak, dan penyimpangan logika dari gadget di tangan anak-anak kita. Ujian ini justru lebih halus dan mematikan.
Di Yayasan Al Furqonul Mubin, kami menjadikan pembentukan aqidah yang meneladani para sahabat ini sebagai fondasi paling dasar. Kami meyakini bahwa membekali anak usia TK/PAUD dengan kecintaan kepada tauhid dan pengenalan akan kemahaagungan Allah adalah benteng terkuat untuk masa depan mereka.
Mari bersama-sama membentengi keluarga kita dengan ilmu syar'i yang murni, agar kelak kita dikumpulkan bersama barisan para Sahabat Nabi ﷺ di Jannah-Nya.
Diterbitkan oleh : Admin