Islam adalah agama yang sangat memudahkan umatnya untuk mendulang pahala. Salah satu syariat yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ namun sering kali terlewat dari rutinitas kita adalah berpuasa tiga hari dalam setiap bulan Hijriah, atau yang lebih dikenal dengan puasa sunnah Ayyamul Bidh.
Tulisan ini akan membedah tata cara, dalil, serta keutamaan puasa Ayyamul Bidh berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih, agar ibadah kita tidak hanya berbekal semangat, namun juga berpijak pada ilmu yang benar.
Apa Itu Ayyamul Bidh?
Ayyamul Bidh secara bahasa berarti "Hari-hari Putih". Dinamakan demikian karena pada malam-malam tersebut (tanggal 13, 14, dan 15 di kalender Hijriah/Qamariyah), bulan sedang dalam fase purnama dan bersinar terang benderang menyinari bumi.
Wasiat Kekasih Hati dan Praktik Para Shahabat
Puasa ini bukanlah ibadah yang diremehkan oleh para shahabat Nabi. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, salah satu shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, menceritakan sebuah wasiat istimewa dari Rasulullah ﷺ:
أَوْصَانِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
"Kekasihku (Rasulullah ﷺ) mewasiatkan kepadaku tiga hal: Puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan shalat Witir sebelum tidur." (Muttafaqun 'Alaih, riwayat Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 721).
Betapa pentingnya ibadah ini, sampai-sampai istri Nabi, 'Aisyah radhiyallahu 'anha, sangat memperhatikan kebiasaan puasa Rasulullah. Mu'adzah al-Adawiyah pernah bertanya kepada 'Aisyah: "Apakah Rasulullah ﷺ senantiasa berpuasa tiga hari pada setiap bulannya?" 'Aisyah menjawab: "Iya." (HR. Muslim no. 1160).
Keutamaan: Pahala Puasa Setahun Penuh!
Mengapa puasa tiga hari ini sangat ditekankan? Allah Ta'ala melipatgandakan pahala satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat. Berpuasa tiga hari sama pahalanya dengan berpuasa tiga puluh hari (satu bulan). Jika dilakukan rutin setiap bulan, maka pahalanya setara dengan puasa setahun penuh tanpa henti!
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin 'Amr: صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
"Puasa tiga hari di setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun." (HR. Bukhari no. 1979).
Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh Sesuai Sunnah
Pelaksanaan puasa ini pada dasarnya sama dengan puasa wajib, namun ada beberapa rincian fiqh yang perlu diperhatikan:
Waktu Pelaksanaan: Dikerjakan pada tanggal 13, 14, dan 15 pada bulan-bulan Hijriah (bukan kalender Masehi). Pengecualian pada bulan Dzulhijjah, puasa tidak boleh dilakukan pada tanggal 13 karena masih termasuk Hari Tasyriq yang diharamkan untuk berpuasa.
Waktu Berniat: Berbeda dengan puasa Ramadhan yang niatnya wajib diinapkan sebelum azan Subuh, niat puasa sunnah boleh diucapkan (di dalam hati) pada pagi atau siang hari, dengan syarat belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa sejak azan Subuh berkumandang.
Makan Sahur: Sangat disunnahkan untuk mengakhirkan sahur (mendekati azan Subuh) demi meraih keberkahan, sebagaimana sabda Nabi: "Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan." (HR. Bukhari & Muslim).
Menyegerakan Berbuka: Disunnahkan berbuka tepat saat azan Maghrib berkumandang, mendahuluinya dengan memakan ruthab (kurma basah), tamr (kurma kering), atau beberapa teguk air putih, lalu membaca doa berbuka yang shahih: Dzahabadz-dzama-u wabtallatil-'uruqu wa tsabatal-ajru insya Allah.
Menjaga Lisan dan Perbuatan: Hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan menahan diri dari ghibah, namimah (adu domba), dan perbuatan maksiat lainnya yang dapat menggugurkan pahala puasa.
Khatimah
Menghidupkan sunnah di tengah rutinitas duniawi adalah ciri seorang mukmin yang cerdas. Mari luangkan waktu tiga hari saja dalam sebulan untuk meraih keutamaan puasa setahun penuh ini. Ajak keluarga, pasangan, dan anak-anak kita untuk bersama-sama melatih diri berpuasa Ayyamul Bidh.
Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk terus berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah ﷺ di atas jalan para Salafu