Menu Utama
Beranda Pendidikan & Galeri Majelis Dakwah Profil Yayasan Artikel & Buletin Pustaka Kitab & AI
Kembali ke Daftar Artikel
Hukum DROPSHIP : Suplemen HHMK 6
13 August 2026

Hukum DROPSHIP : Suplemen HHMK 6

Dibaca 19 kali 0 Suka

ย 

Kemajuan di bidang teknologi informatika juga merambat kepada kemajuan di bidang perdagangan.

Dahulu, sebuah transaksi niaga hanya dapat dilakukan dengan cara kedua belah pihak hadir dalam satu majelis, namun dengan adanya telepon dan internet maka jarak yang jauh antara dua pihak yang bertransaksi bukan lagi menjadi penghalang untuk melangsungkannya.

Berbagai jenis transaksi dapat dilakukan melalui aplikasi, diantaranya dropship.

Definisi:

Menurut Wikipedia, pengertian dropship adalah sebuah teknik pemasaran dimana penjual tidak menyimpan stok barang, jika penjual mendapatkan order, penjual tersebut langsung meneruskan order dari detail pengiriman barangnya ke supplier.

Sebagai ilustrasi : pak Ahmad membeli sebuah produk pada salah satu market place dengan harga 800 ribu rupiah. Karena pak Ahmad merasa puas dengan produk tersebut dan harganya yang lebih murah daripada di toko offline, yang dijual dengan harga 1juta rupiah, maka pak Ahmad memfoto produk tersebut dan mengunduhnya di akun-akun beliau di berbagai jejaring sosial serta menuliskan harga jual produk tersebut dengan harga 900 ribu rupiah diluar ongkos kirim. Dengan demikian ia mendapat laba 100 ribu rupiah per-item. Ketika ada yang tertarik dengan produk tersebut maka kostumer membelinya dari pak Ahmad serta mengirim uang kepada pak Ahmad. Dan pak Ahmad setelah meyakini uang pembelian produk sampai ke rekeningnya, beliau melakukan pembelian produk ke market place dan membayar melalui transfer uang sebanyak 800 ribu rupiah dan memilih fitur (Dropship) yang ada pada web market place. Serta melampirkan alamat konsumennya dan meminta pihak market place mengirim langsung barang yang dibeli ke alamat konsumen dengan menyertakan alamat identitas dropshipper (pak Ahmad).

Tinjauan Fiqh terhadap transaksi ini

Para ulama kontemporer sepakat bahwa transaksi yang disyaratkan tunai serah terima barang dan uang tidak dibenarkan untuk dilakukan dengan cara dropship, seperti jual-beli emas dan perak dengan uang kartal. Dalam ilustrasi di atas riba nasiโ€™ah terjadi dua kali;

  • pertama: antara dropshipper dengan konsumennya, dimana dropshipper(penjual) menerima transfer uang pembelian dari konsumen dan dropshipper dalam waktu dan majlis yang sama tidak menyerahkan emas kepada konsumennya. Disini tidak terjadi serahterima emas dengan uang kartal ูŠูŽุฏู‹ุง ุจููŠูŽุฏู dan ini adalah riba nasiโ€™ah.
  • Kedua: antara dropshipper dengan marketplace, dimana uang ditransfer dropshipper ke rekening yang ditunjuk oleh marketplace (penjual/wakil penjual), kemudian dropshipper (pembeli) memerintahkan pihak marketplace mengirim emas kepada pihak ketiga yang statusnya adalah pembeli dari dropshipper. Dan emas akan diterima oleh konsumen dropshipper beberapa waktu setelah uang ditransfer oleh dropshipper kepada pihak penjual emas. Maka sesungguhnya yang terjadi adalah tidak adanya serahterima emas dengan uang kartalูŠูŽุฏู‹ุง ุจููŠูŽุฏู ย dan ini adalah riba nasiโ€™ah.

Hukum di atas berdasarkan keputusan Majmaโ€™ Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI) No. 52 (3/6) tahun 1990, setelah menjelaskan kaidah dalam transaksi menggunakan sarana komunikasi modern, disebutkan, โ€œKaidah-kaidah yang telah disebutkan di atas tidak dapat diterapkan untuk akad nikah karena disyaratkan harus ada saksi, juga tidak dapat diterapkan untuk sharf (tukar-menukar mata uang, atau jual beli emas dan perak) karena disyaratkan harus serah-terima barang dan uang secara tunaiโ€œ[1].

Untuk barang yang tidak disyaratkan serah terima tunai dalam jual-belinya, yaitu seluruh jenis barang, selain emas/perak dan mata uang maka dropship juga diharamkan, karena:

Dropshipper menjual barang yang belum dimilikinya, karena saat konsumen membeli dari dropshipper, si dropshipper belum memiliki barang tersebut dan ini hukumnya haram, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam radhiyallahu โ€˜anhu, ia berkata,

ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูŠูŽุฃู’ุชููŠู†ููŠ ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ูุŒ ููŽูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูู†ููŠ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุนูŽ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูู†ู’ุฏููŠ ุฃูŽุจููŠุนูู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุฃูŽุจู’ุชูŽุงุนูู‡ู ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูู‘ูˆู‚ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู„ูŽุง ุชูŽุจูุนู’ ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽูƒูŽยป

โ€œWahai rasulullah, seseorang datang kepadaku untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak kumiliki, apakah boleh aku menjualnya kemudian aku membeli barang yang diinginkannya dari pasar? Maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab,โ€Jangan engkau jual barang yang belum engkau miliki! (HR. An Nasai. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani).

  • Dropshipper menjual barang yang belum dimiliki dan belum diterima dari penjual pertama lalu dia meminta penjual pertama mengirim barang langsung kepada konsumennya. Hal ini diharamkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam radhiyallahu โ€˜anhu

ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูู„ู’ุชู: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุดู’ุชูŽุฑููŠ ุจููŠููˆุนู‹ุง ููŽู…ูŽุง ูŠูŽุญูู„ูู‘ ู„ููŠ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูุญูŽุฑูŽู‘ู…ู ุนูŽู„ูŽูŠูŽู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซููŽุฅูุฐูŽุง ุงุดู’ุชูŽุฑูŽูŠู’ุชูŽ ุจูŽูŠู’ุนู‹ุงุŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุจูุนู’ู‡ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽู‚ู’ุจูุถูŽู‡ูยป

Hakim bin Hizam berkata,โ€Aku berkata, Wahai Rasulullah! Aku membeli dan menjual, apakah yang dihalalkan untukku dan apa yang diharamkan? Nabi bersabda,โ€Apabila engkau membeli sesuatu maka jangan engkau jual barang tersebut sebelum engkau menerimanyaโ€. H.R. Ahmad, Arnauth berkata,โ€Derajat hadist ini shahih lighairihiโ€.

Solusi Syarโ€™i

Agar jual-beli ini menjadi sah, dropshipper dapat melakukan langkah-langkah berikut:

  • Beritahu setiap calon pembeli bahwa penyediaan aplikasi permohonan barang bukan berarti ijab dari penjual (pemilik situs).
  • Setelah calon pembeli mengisi formulir dan mengirimkannya, pemilik situs tidak boleh menerima langsung akad jual-beli. Akan tetapi ia beli terlebih dahulu barang tersebut dari pemilik barang sesungguhnya lalu ia terima barang tersebut, setelah itu ia jawab permohonan pembeli dan memintanya untuk mentransfer uang ke rekening miliknya. Dan barang dikirimkan kepada pembeli.
  • Untuk menghindari kerugian akibat konsumen menarik keinginannya untuk membeli selama masa tunggu, sebaiknya dropshipper mensyaratkan kepada pemilik barang sesungguhnya bahwa ia berhak mengembalikan barang selama beberapa hari sejak barang dibeli, ini yang dinamakan dengan khiyar syarat.

Solusi lain: dropshipper menyatakan kepada konsumennya bahwa dia adalah wakil dari pembeli dan dia meminta fee atas jasa mencarikan barang dan membelikan barang atas nama kosumen.

Solusi akad salam: sebagian orang menawarkan solusi untuk dropship dengan cara mengubah akad jual-beli menjadi akad salam.

Tinjauan Fikih untuk Solusi ini:

Solusi ini tidak kuat karena syarat utama dalam akad salam bahwa raโ€™su maal salam harus diserah-terimakan di majlis akad dan ini tidak terjadi dalam transaksi dropship. Dimana konsumen tidak menyerahkan uang kepada dropshipper sebelum berpisah dari majlis akad. Serah-terima raโ€™su maal salam di majlis akad disyaratkan agar tidak terjadi jual beli utang dengan utang yang hukumnya haram berdasarkan ijmaโ€™ para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah, ia berkata:

ุจูŽูŠู’ุนู ุฏูŽูŠู’ู†ู ุจูุฏููŠู†ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุฐูุฑู: ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุจูŽูŠู’ุนูŽ ุงู„ุฏูŽู‘ูŠู’ู†ู ุจูุงู„ุฏูŽู‘ูŠู’ู†ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒู. ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู: ุฅู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฅุฌู’ู…ูŽุงุนูŒ.

ย โ€œJual beli utang dengan utang tidak diperbolehkan berdasarkan ijmaโ€™. Ibnu Munzir berkata,โ€ย  Para ulama telah berijmaโ€™ bahwa jual beli utang dengan utang tidak diperbolehkan. Imam Ahmad berkata,โ€ Sungguh telah terjadi ijmaโ€™โ€[2].

Al Kasani al Hanafi (wafat 587H) berkata tentang syarat raโ€™su maal salam,โ€

ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูŽู‚ู’ุจููˆุถู‹ุง ูููŠ ู…ูŽุฌู’ู„ูุณู ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽู…ู ู„ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูŽู…ูŽ ูููŠู‡ู ุฏูŽูŠู’ู†ูŒ , ูˆูŽุงู„ุงูู’ุชูุฑูŽุงู‚ู ู„ุง ุนูŽู†ู’ ู‚ูŽุจู’ุถู ุฑูŽุฃู’ุณู ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ูŠูŽูƒููˆู†ู ุงูู’ุชูุฑูŽุงู‚ู‹ุง ุนูŽู†ู’ ุฏูŽูŠู’ู†ู ุจูุฏูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ู‡ููŠูŒู‘ ุนูŽู†ู’ู‡ู ู„ูู…ูŽุง ุฑููˆููŠูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ยซู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆู ุจูุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆูยป ุฃูŽูŠู’ ุงู„ู†ูŽู‘ุณููŠุฆูŽุฉู ุจูุงู„ู†ูŽู‘ุณููŠุฆูŽุฉู.

Disyaratkan bahwa harus diserah-terimakan di majlis salam, karena muslam fiih utang (tidak tunai). Sedangkan berpisah kedua pihak yang bertransaksi salam tanpa terjadi serahterima adalah berpisah dengan kondisi utang dengan utang dan ini hukumnya terlarang berdasarkan hadist bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah melarang jual beli utang dengan utang yaitu tidak tunai dengan tidak tunai[3].

Asy Syarbaini berkata,โ€

(ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูŽุง โ€“ ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู ุฑูŽุฃู’ุณู ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู) ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุซูŽู‘ู…ูŽู†ู (ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฌู’ู„ูุณู) ุฃูŽูŠู’ ู…ูŽุฌู’ู„ูุณู ุงู„ู’ุนูŽู‚ู’ุฏู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ู„ูุฒููˆู…ูู‡ู ; ู„ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูู‘ุฒููˆู…ูŽ ูƒูŽุงู„ุชูŽู‘ููŽุฑูู‘ู‚ู โ€ฆ ุฅุฐู’ ู„ูŽูˆู’ ุชูŽุฃูŽุฎูŽู‘ุฑูŽ ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ุฏูŽู‘ูŠู’ู†ู ุจูุงู„ุฏูŽู‘ูŠู’ู†ู.

โ€œSyarat pertama: penyerahan raโ€™su maal (alat pembayar) di majlis akad sebelum akad menjadi lazim, karena akad menjadi lazim dengan berpisah. Jikalau terlambat penyerahan raโ€™su maal salam maka ini adalah jual beli utang dengan utangโ€[4].

Az zarkasyi berkata,โ€

(ุงู„ุดุฑุท ุงู„ุณุงุฏุณ) โ€ฆ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ู’ุจูุถูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูŽ ู…ูŽุงู„ู ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽู…ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ููŽุฑูู‘ู‚ู ุนูŽู†ู’ ู…ูŽุฌู’ู„ูุณู ุงู„ุนูŽู‚ู’ุฏูุŒ ุญูุฐูŽุงุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููŠู’ุฑูŽ ุจูŽูŠู’ุนูŽ ุฏูŽูŠู’ู†ู ุจูุฏูŽูŠู’ู†ู. ููŽูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุชูŽุญู’ุชูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ู‡ู’ูŠู ุนูŽู†ู’ ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ูƒูŽุงู„ูุฆ ุจูุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุงุณู’ุชูŽู†ู’ุจูŽุทูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุงููุนููŠูู‘ โ€“ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู โ€“ ู…ู† ู‚ูˆู„ู‡ โ€“ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ -: ยซู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุณู’ู„ูŽููŽ ููŽู„ู’ูŠูุณู’ู„ููู’ยป ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽูŠู’ ููŽู„ู’ูŠูุนู’ุทู. ู‚ุงู„: ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ูŽุนู ุงุณู’ู…ู ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽูู ูููŠู’ู‡ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุนู’ุทููŠูŽู‡ู ู…ูŽุง ุณูŽู„ูŽู‘ููŽู‡ู ูููŠู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูููŽุงุฑูู‚ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู„ูŽู‘ููŽู‡ู.

ย โ€œSyarat keenam: bahwa raโ€™su maal salam diserah-terimakan sebelum berpisah dari majlis akad untuk menghindari terjadinya jual beli utang dengan utang. Maka masuk dalam larangan jual beliย ย ย  (ุงู„ูƒุงู„ุฆ ุจุงู„ูƒุงู„ุฆ). Dan Imam Syafii telah mengambil hukum ini dari sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam:

ย ย  ยซู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุณู’ู„ูŽููŽ ููŽู„ู’ูŠูุณู’ู„ููู’ยป

โ€œSiapa yang melakukan akad salam hendaklah ia memberikan. Ia berkata,โ€ karena salam tidak dapat dikatakan salam secara bahasa hingga uangnya diberikan kepada penjual salam sebelum berpisah dari penjual salamโ€œ[5].

Dan menurut hasil mukatamar divisi fiqh OKI bahwa tidak boleh melakukan akad salam via online karena tidak terjadinya serahterima raโ€™su maal salam di majlis akad.

ู‚ุฑุงุฑ ุฑู‚ู… : 52 (3/6) ุจุดุฃู† ุญูƒู… ุฅุฌุฑุงุก ุงู„ุนู‚ูˆุฏ ุจุขู„ุงุช ุงู„ุงุชุตุงู„ ุงู„ุญุฏูŠุซุฉ

ุฅู† ู…ุฌู„ุณ ู…ุฌู…ุน ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ุงู„ู…ู†ุนู‚ุฏ ููŠ ุฏูˆุฑุฉ ู…ุคุชู…ุฑู‡ ุงู„ุฑุงุจุน ุจุฌุฏุฉ ุจุงู„ู…ู…ู„ูƒุฉ ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ุงู„ุณุนูˆุฏูŠุฉ ู…ู† 17 ุฅู„ู‰ 23 ุดุนุจุงู† 1410 ู‡ู€ ุงู„ู…ูˆุงูู‚ 14- 20 ุขุฐุงุฑ (ู…ุงุฑุณ) 1990ู… ุŒ ุจุนุฏ ุงุทู„ุงุนู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุจุญูˆุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุฌู…ุน ุจุฎุตูˆุต ู…ูˆุถูˆุน ุฅุฌุฑุงุก ุงู„ุนู‚ูˆุฏ ุจุขู„ุงุช ุงู„ุงุชุตุงู„ ุงู„ุญุฏูŠุซุฉ ุŒ ูˆู†ุธุฑุง ุฅู„ู‰ ุงู„ุชุทูˆุฑ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ุงู„ุฐูŠ ุญุตู„ ููŠ ูˆุณุงุฆู„ ุงู„ุงุชุตุงู„ ูˆุฌุฑูŠุงู† ุงู„ุนู…ู„ ุจู‡ุง ููŠ ุฅุจุฑุงู… ุงู„ุนู‚ูˆุฏ ู„ุณุฑุนุฉ ุฅู†ุฌุงุฒ ูˆุจุงุณุชุญุถุงุฑ ู…ุง ุชุนุฑุถ ู„ู‡ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุจุดุฃู† ุฅุจุฑุงู… ุงู„ุนู‚ูˆุฏ ุจุงู„ุฎุทุงุจ ูˆุจุงู„ูƒุชุงุจุฉ ูˆุจุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ูˆุจุงู„ุฑุณูˆู„ุŒ ูˆู…ุง ุชู‚ุฑุฑ ู…ู† ุฃู† ุงู„ุชุนุงู‚ุฏ ุจูŠู† ุงู„ุญุงุถุฑูŠู† ูŠุดุชุฑุท ู„ู‡ ุงุชุญุงุฏ ุงู„ู…ุฌู„ุณ -ุนุฏุง ุงู„ูˆุตูŠุฉ ูˆุงู„ุฅูŠุตุงุก ูˆุงู„ูˆูƒุงู„ุฉ- ูˆุชุทุงุจู‚ ุงู„ุฅูŠุฌุงุจ ูˆุงู„ู‚ุจูˆู„ุŒ ูˆุนุฏู… ุตุฏูˆุฑ ู…ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฅุนุฑุงุถ ุฃุญุฏ ุงู„ุนุงู‚ุฏูŠู† ุนู† ุงู„ุชุนุงู‚ุฏ ูˆุงู„ู…ูˆุงู„ุงุฉ ุจูŠู† ุงู„ุฅูŠุฌุงุจ ูˆุงู„ู‚ุจูˆู„ ุจุญุณุจ ุงู„ุนุฑู.

ู‚ุฑุฑ ู…ุง ูŠู„ูŠ :

ุฃูˆู„ุง: ุฅุฐุง ุชู… ุงู„ุชุนุงู‚ุฏ ุจูŠู† ุบุงุฆุจูŠู† ู„ุง ูŠุฌู…ุนู‡ู…ุง ู…ูƒุงู† ูˆุงุญุฏ ูˆู„ุง ูŠุฑู‰ ุฃุญุฏ ู…ู†ู‡ู… ุงู„ุขุฎุฑ ู…ุนุงูŠู†ุฉุŒ ูˆู„ุง ูŠุณู…ุน ูƒู„ุงู…ู‡ ูˆูƒุงู†ุช ูˆุณูŠู„ุฉ ุงู„ุงุชุตุงู„ ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุงู„ูƒุชุงุจุฉ ุฃูˆ ุงู„ุฑุณุงู„ุฉ ุฃูˆ ุงู„ุณูุฑุฉ (ุงู„ุฑุณูˆู„)ุŒ ูˆูŠู†ุทุจู‚ ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุจุฑู‚ ูˆุงู„ุชู„ูƒุณุŒ ูˆุงู„ูุงูƒุณ ุŒ ูˆุดุงุดุฉ ุงู„ุญุงุณุจ ุงู„ุขู„ูŠ (ุงู„ุญุงุณูˆุจ)โ€ฆ โ€ฆ โ€ฆ

ุฑุงุจุนุง : ุฅู† ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุณุงุจู‚ุฉ ู„ุง ุชุดู…ู„ ุงู„ู†ูƒุงุญ ู„ุงุดุชุฑุงุท ุงู„ุฅุดู‡ุงุฏ ููŠู‡ ุŒ ูˆู„ุง ุงู„ุตุฑู ู„ุงุดุชุฑุงุท ุงู„ุชู‚ุงุจุถ ุŒ ูˆู„ุง ุงู„ุณู„ู… ู„ุงุดุชุฑุงุท ุชุนุฌูŠู„ ุฑุฃุณ ุงู„ู…ุงู„.

Majmaโ€™ Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI) keputusan No. 52 (3/6) tahun 1990, yang berbunyi, Pertama:โ€œApabila akad terjadi antara dua orang yang berjauhan tidak berada dalam satu majlis dan pelaku transaksi, satu dengan lainnya tidak saling melihat, tidak saling mendengar rekan transaksinya, dan media antara mereka adalah tulisan atau surat atau orang suruhan, hal ini dapat diterapkan pada faksmili, teleks, dan layar komputer (internet). Maka akad berlangsung dengan sampainya ijab dan qabul kepada masing-masing pihak yang bertransaksi.

Bila transaksi berlangsung dalam satu waktu sedangkan kedua belah pihak berada di tempat yang berjauhan, hal ini dapat diterapkan pada transaksi melalui telepon ataupun telepon seluler, maka ijab dan qabul yang terjadi adalah langsung seolah-olah keduanya berada dalam satu tempatโ€ โ€ฆ

Keempat: Kaidah-kaidah di atas tidak dapat diterapkan pada akad nikah karena disyaratkan persaksian, โ€ฆ juga tidak dapat diterapkan pada akad salam, karena akad salam disyaratkan menyegerakan serah terima raโ€™su maalโ€[6].

Wallahu aโ€™lam, dari beberapa alasan di atas maka solusi ini merupakan solusi yang marjuh (lemah).

[1]ย ย ย ย  Jurnal Majmaโ€™ Al Fiqh Al Islami, edisi VI, jilid II, hal 785.

[2]ย ย ย ย  Al Mughni 4/37.

[3]ย ย ย ย  Badaiโ€™ Shanaiโ€™5/202.

[4]ย ย ย ย  Mughni Muhtaj 2/102.

[5]ย ย ย ย  Syarh Zarkasy ala Mukhtashar al Khiraqi 4/14.

[6]ย ย ย ย  ibid.

Suplemen HHMK 6: Cetakan Keduapuluhtiga, Januari 2020

Tinggalkan Komentar / Pertanyaan

Komentar Terbaru:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Beranda Dakwah
PPDB
Artikel Tanya WA