Menu Utama
Beranda Pendidikan & Galeri Majelis Dakwah Profil Yayasan Artikel & Buletin Pustaka Kitab & AI
Kembali ke Daftar Artikel
Dua Nikmat yang Sering Menipu: Menjaga Amanah Waktu dan Kesehatan Fisik
14 August 2026

Dua Nikmat yang Sering Menipu: Menjaga Amanah Waktu dan Kesehatan Fisik

Dibaca 37 kali 0 Suka

Dalam hiruk-pikuk kehidupan dunia yang serba cepat, manusia sering kali berlomba-lomba mengejar harta dan kedudukan. Namun ironisnya, ada dua modal terbesar yang diberikan secara gratis oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, justru paling sering disia-siakan. Kedua modal tersebut adalah waktu luang dan kesehatan fisik.

Sebagai seorang muslim yang cerdas, kita dituntut untuk mengelola waktu dengan disiplin tingkat tinggi dan menjaga kebugaran jasmani, bukan sekadar untuk gaya hidup, melainkan sebagai sarana penunjang ketaatan kepada Sang Pencipta.

Peringatan Keras dari Rasulullah ๏ทบ

Jauh-jauh hari, Nabi kita Muhammad ๏ทบ telah memberikan peringatan yang sangat tajam mengenai fenomena kelalaian ini. Dari shahabat Ibnu โ€˜Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู†ูุนู’ู…ูŽุชูŽุงู†ู ู…ูŽุบู’ุจููˆู†ูŒ ูููŠู‡ูู…ูŽุง ูƒูŽุซููŠุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุŒ ุงู„ุตู‘ูุญู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ููŽุฑูŽุงุบู

"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari no. 6412).

Kata maghbun (tertipu/rugi) dalam hadits ini diibaratkan seperti seorang pedagang yang memiliki modal besar, namun ia menjual barangnya dengan harga yang sangat murah atau bahkan membiarkan modalnya menganggur hingga busuk. Begitulah perumpamaan orang yang badannya sehat dan memiliki waktu luang, namun tidak menggunakannya untuk menuntut ilmu syar'i, membaca Al-Qur'an, atau amal shalih lainnya.

Pandangan Ulama Salaf tentang Waktu

Para Salafus Shalih adalah generasi yang paling pelit terhadap waktu mereka melebihi pelitnya seseorang terhadap dinar dan dirham. Mereka menyadari bahwa hakikat umur adalah hitungan hari yang terus berkurang.

Hasan Al-Bashri rahimahullah memberikan sebuah perumpamaan yang sangat mendalam: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Apabila satu hari telah berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu."

Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa menyia-nyiakan waktu itu lebih parah daripada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskan interaksi kita dengan Allah dan kehidupan akhirat, sedangkan kematian hanyalah memisahkan kita dari kehidupan dunia dan penduduknya.

Mukmin yang Kuat Lebih Dicintai Allah

Kedisiplinan menjaga waktu tentu harus dibarengi dengan fisik yang prima. Islam sangat memperhatikan urusan kesehatan. Rutin berolahraga, menjaga pola makan yang halal dan thayyib (baik), serta istirahat yang cukup di awal malam adalah bagian dari tuntunan syariat agar kita bisa beribadah dengan maksimal.

Rasulullah ๏ทบ bersabda: ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆูู‰ู‘ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุงู„ุถู‘ูŽุนููŠูู ูˆูŽููู‰ ูƒูู„ู‘ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan." (HR. Muslim no. 2664).

Kuat di sini mencakup kuat keimanannya dan juga kuat fisiknya. Bagaimana mungkin seorang muslim bisa shalat malam dengan khusyuk, melangkah ke masjid di waktu subuh, atau berjihad membela agama Allah jika fisiknya lemah karena gaya hidup yang tidak teratur?

Khatimah

Mari kita introspeksi diri. Mumpung raga masih bugar, pernapasan masih lega, dan waktu luang masih tersedia, mari kita atur kembali jadwal harian kita. Jangan tunggu masa tua datang untuk mulai ke masjid, dan jangan tunggu sakit rebah di ranjang untuk menyadari betapa mahalnya nilai sebuah kesehatan.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita menjadi hamba yang pandai bersyukur dengan cara memanfaatkan umur dan raga ini murni untuk meraih ridha-Nya.

Tinggalkan Komentar / Pertanyaan

Komentar Terbaru:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Beranda Dakwah
PPDB
Artikel Tanya WA