Setiap kali bulan Rabiul Awwal tiba, diskursus mengenai perayaan Maulid Nabi kembali menghangat di tengah masyarakat. Sebagai seorang Muslim, kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah fondasi keimanan yang tidak boleh ditawar. Namun, bagaimana cara mengekspresikan kecintaan tersebut sesuai dengan bimbingan syariat? Di sisi lain, bagaimana pula cara kita menyikapi saudara seiman kita yang terlanjur mengamalkannya?
Mari kita telaah masalah ini secara objektif dengan berpegang pada timbangan ilmu, dalil shahih, serta adab para ulama.
1. Tinjauan Ilmiah: Mengapa Maulid Dihukumi Bid’ah?
Berdasarkan kaidah ushul fiqh dan sejarah peradaban Islam, para ulama sepakat bahwa perayaan khusus Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabi'in, maupun Tabi'ut Tabi'in.
Generasi terbaik umat ini (Salafusshalih) hidup paling dekat dengan Nabi, sangat mencintai beliau melebihi diri mereka sendiri, namun mereka tidak pernah merayakan hari lahir beliau sebagai sebuah ritual tahunan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan peringatan tegas:
"Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, beliau bersabda:
"Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dari sudut pandang dalil ini, secara hukum syariat dan ilmiah, perayaan maulid dikategorikan sebagai bid'ah amaliyah karena tidak memiliki landasan pensyariatan dari Nabi maupun generasi awal Islam. Ketegasan ilmiah ini harus tetap dijaga agar kemurnian agama tidak tercampur dengan inovasi buatan manusia.
2. Batas yang Tegas: Pelaku Bid’ah Bukan Berarti Kafir atau Keluar dari Islam
Meskipun sebuah perbuatan dinilai sebagai bid’ah secara hukum, kita tidak boleh sembarangan memvonis pelakunya sebagai kafir, sesat mutlak, atau keluar dari Islam. Ini adalah prinsip penting dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Para ulama besar menjelaskan bahwa seorang Muslim yang melakukan suatu bid'ah (seperti maulid) biasanya didasari oleh:
Rasa cinta yang tulus kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun jalannya keliru dari sisi syariat.
Ketidaktahuan (Jahl) atau taqlid (mengikut) kepada sebagian ulama mazhab yang membolehkannya di masa lampau.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam banyak risalahnya sangat tegas membongkar bid'ah, namun beliau tetap adil terhadap pelakunya. Beliau menjelaskan bahwa orang yang berijtihad atau bertaklid dalam masalah amal ibadah lalu terjerumus dalam bid'ah, amalan tersebut tertolak, namun keislaman mereka tetap terjaga, dan mereka dimaafkan jika memiliki niat mendekatkan diri kepada Allah namun keliru dalam tata caranya.
Imam Asy-Shatibi rahimahullah dalam kitab Al-I'tisham juga menegaskan bahwa tidak setiap orang yang jatuh ke dalam perbuatan bid’ah otomatis menjadi ahli bid’ah yang tercela secara mutlak, terutama jika mereka adalah orang-orang yang awam dan beriman.
3. Keteladanan Salaf: Tegas pada Prinsip, Santun pada Manusia
Dakwah para ulama Salaf (termasuk ulama-ulama besar kontemporer seperti Syaikh bin Baz dan Syaikh Al-Utsaimin rahimahumullah) dalam menghadapi masalah khilafiyah dan bid'ah selalu dihiasi dengan hikmah dan akhlak yang mulia:
Membedakan antara Perbuatan dan Pelaku: Objeknya (perbuatannya) dinilai salah dan menyalahi sunnah, namun subjeknya (pelakunya) diperlakukan dengan santun, didakwahi dengan lembut, dan tidak dihakimi secara keji.
Menghindari Fanatisme Sempit: Dakwah yang haq tidak disampaikan dengan caci maki, merendahkan, atau mencela orang awam yang belum mengerti ilmu agama. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus bukan sebagai pembawa laknat, melainkan sebagai rahmatan lil 'alamin.
Mengutamakan Prioritas Dakwah: Mengajak umat kepada tauhid yang benar, shalat yang khusyuk, dan kecintaan yang substansial kepada sunnah Nabi jauh lebih utama daripada sekadar menghabiskan energi untuk saling berdebat di ruang publik tanpa adab.
Penutup: Mari Eratkan Ukhuwah di Atas Hujjah yang Lembut
Saudaraku seiman, ketegasan dalam memegang sunnah tidak boleh menipiskan akhlak kita sesama Muslim. Kita meyakini bahwa jalan keselamatan terbaik adalah dengan berpegang teguh pada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabatnya.
Bagi saudara-saudara kita yang belum memahami hal ini dan masih merayakannya, tugas kita bukanlah menjauhkan atau menghina mereka, melainkan merangkul mereka dengan dakwah yang santun, menjelaskan dalil dengan penuh kesabaran, serta menunjukkan bahwa cinta kepada Nabi yang paling sempurna adalah dengan meneladani sunnah beliau secara kaffah (utuh) dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing langkah kita di atas jalan yang lurus, menyatukan hati kaum Muslimin di atas kebenaran, dan menghiasi dakwah kita dengan hikmah. Aamin ya Rabbal 'alamin.